Setahun Terlilit Cincin, Tunawisma Diselamatkan di Jalur Trans Kalimantan
PALANGKA RAYA – Kisah pilu sekaligus mengharukan terjadi di ruas Jalan Trans Kalimantan, wilayah Pulang Pisau, Sabtu (28/2/2026). Seorang pria tunawisma asal Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Muhammad Lutfi Firdaus, harus menahan penderitaan selama kurang lebih satu tahun akibat cincin besi yang melilit jarinya hingga menimbulkan luka parah dan membusuk.
Lutfi ditemukan dalam kondisi berjalan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat, menahan nyeri yang tak tertahankan. Peristiwa itu bermula saat seorang penginjil dari Gereja Kalimantan Evangelis, Sadagori Henoch Binti, melintas dari Palangka Raya menuju Kuala Kapuas dalam rangka pelayanan.
Di tengah perjalanan, ia mengaku tergerak melihat kondisi Lutfi yang memprihatinkan di pinggir jalan. Tanpa berpikir panjang, ia segera melakukan koordinasi cepat dengan Inspektur Kabupaten Pulang Pisau, Hayes Hendra.
Respons cepat pun diberikan. Lutfi segera dilarikan ke IGD RSUD Pulang Pisau untuk mendapatkan penanganan medis. Tim pemadam kebakaran setempat turut diterjunkan membantu proses pelepasan cincin yang sudah menyatu dengan jaringan luka.
Proses evakuasi cincin berlangsung dramatis selama kurang lebih dua jam. Petugas Damkar bersama tenaga medis harus bekerja ekstra hati-hati menggunakan gerinda kecil dan peralatan khusus agar tidak merusak jari yang sudah terinfeksi parah. Rasa sakit tak terhindarkan, mengingat kondisi luka yang telah membusuk.
Dalam proses tersebut, dokter jaga, dr. Devid Fernando, bahkan rela kembali ke rumah untuk mengambil tang penjepit khusus guna membantu memutus cincin yang telah digerinda. Setelah upaya panjang dan penuh kehati-hatian, cincin besi yang selama setahun mencengkeram jari Lutfi akhirnya berhasil dilepaskan.
Usai tindakan medis dan pembersihan luka, Lutfi diperbolehkan melanjutkan perjalanannya. Ia juga menerima bantuan secukupnya untuk bekal sementara. Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau disebut memberikan pelayanan tanpa memungut biaya atas tindakan darurat tersebut.
Peristiwa ini menjadi pengingat tentang pentingnya kepedulian dan respons cepat terhadap sesama yang membutuhkan. Di tengah kerasnya kehidupan jalanan, satu tindakan kemanusiaan mampu menjadi titik balik bagi seseorang yang lama bergumul dalam penderitaan.










Tinggalkan Balasan