Narasi Kalteng

Akurat & Terpercaya

Program GENERASI Trakindo Dorong Inovasi Herbal Siswa di Sampit

Siswa SDN 4 Ketapang olah bawang dayak jadi minuman herbal melalui Program GENERASI Trakindo.

SAMPIT – Siswa SDN 4 Ketapang, Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah berhasil mengolah bawang dayak menjadi minuman herbal. Inovasi tersebut lahir melalui pembelajaran berbasis praktik dalam Program Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI) yang didukung PT Trakindo Utama.

Guru sekaligus Ketua Adiwiyata SDN 4 Ketapang, Asykuriah, menjelaskan bahwa proses pengembangan produk dilakukan secara bertahap dan penuh eksperimen.

“Awalnya kami hanya mengolah secara sederhana, kemudian terus dikembangkan agar lebih praktis dan mudah dikonsumsi,” ujarnya, Senin (11/5/2026).

Menurut Asykuriah, eksplorasi siswa terhadap bawang dayak terus berkembang, mulai dari rajangan sederhana hingga percobaan menghasilkan produk berbentuk serbuk siap seduh.

“Dalam beberapa percobaan awal, hasilnya belum sesuai harapan. Bawang dayak yang seharusnya menjadi serbuk justru berubah seperti dodol. Tapi dari situ anak-anak belajar untuk terus mencoba dan memperbaiki,” tambahnya.

Pendampingan dalam program tersebut tidak hanya berfokus pada hasil produk, tetapi juga pada proses belajar siswa. Anak-anak diajak mengidentifikasi masalah, mencari solusi, dan belajar dari pengalaman secara langsung.

Salah satu siswa, Nafisa, mengaku kini lebih percaya diri setelah terlibat aktif dalam berbagai kegiatan praktik dan presentasi.

“Awalnya saya sempat takut kalau harus maju dan menjelaskan di depan orang lain. Tapi setelah sering mencoba, sekarang jadi lebih berani,” katanya.

Dukungan terhadap inovasi ini juga datang dari berbagai pihak, mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, hingga Bank Kalteng yang membantu menyediakan ruang produksi dan galeri penjualan.

Selain itu, kolaborasi dengan puskesmas setempat turut dilakukan untuk mendorong pemanfaatan tanaman herbal di masyarakat.

Pendamping Program GENERASI Trakindo, Firman Apriandi, menilai keberhasilan inovasi tersebut tidak lepas dari pola pikir berkembang (growth mindset) yang diterapkan dalam proses belajar.

“Bu Asykur tidak berhenti pada satu inovasi, tetapi selalu terbuka untuk mencoba hal baru dan melihat tantangan sebagai peluang. Itu yang membuat inovasi di sekolah ini konsisten,” jelasnya.

Sementara itu, Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama, Candy Sihombing, menyebut pendekatan pembelajaran kontekstual mampu memberikan dampak lebih luas, tidak hanya bagi siswa tetapi juga lingkungan sekitar.

“Kami melihat ketika sekolah konsisten mengembangkan cara belajar seperti ini, dampaknya dirasakan tidak hanya oleh siswa, tetapi juga lingkungan sekitar,” ujarnya.

Kini, inovasi bawang dayak di SDN 4 Ketapang tidak hanya menjadi bagian dari proses pembelajaran, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat kewirausahaan sejak dini. (Mdh).

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Exit mobile version