Penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Terganggu akibat Asap Pekat Karhutla
Asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan di Kota Palangka Raya mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut. Kondisi ini terjadi sejak Sabtu pagi, saat jarak pandang di sekitar bandara turun drastis hingga sekitar 300 meter.
Salah satu penerbangan yang terdampak adalah pesawat Super Air Jet dari Surabaya menuju Palangka Raya. Pesawat yang seharusnya tiba pada pukul 08.50 WIB mengalami penundaan akibat kondisi jarak pandang yang minim.
Pihak maskapai memilih menunda penerbangan sebagai langkah antisipasi demi keselamatan penumpang dan awak pesawat.
Kondisi serupa juga berdampak pada sejumlah penerbangan dari Palangka Raya menuju sejumlah kota, di antaranya Semarang, Jakarta, dan Surabaya. Seluruh penerbangan tersebut menggunakan maskapai Super Air Jet.
Penerbangan Palangka Raya menuju Semarang yang seharusnya berangkat pukul 09.40 WIB, baru dapat diberangkatkan pada pukul 14.10 WIB.
Sementara penerbangan Palangka Raya menuju Jakarta dan Surabaya yang semula dijadwalkan berangkat pukul 13.15 WIB, mengalami penundaan hingga akhirnya diberangkatkan pada pukul 17.30 WIB.
Penundaan ini membuat para penumpang harus menunggu lebih lama di ruang tunggu lantai dua bandara, sambil menunggu kondisi membaik dan pesawat dapat beroperasi kembali.
Meski penerbangan terganggu, pihak bandara tetap memberikan pelayanan kepada para penumpang. Di antaranya menyediakan air minum gratis, masker, hingga oksigen bagi penumpang yang membutuhkannya.
Sementara itu, mengingat kualitas udara di Palangka Raya sempat berada pada level berbahaya, pihak bandara juga mengarahkan masyarakat yang menunggu kedatangan maupun mengantar penumpang untuk berada di ruangan yang lebih aman dari paparan asap karhutla.
Ruangan tersebut berada di lantai satu Bandara Tjilik Riwut. Masyarakat diimbau tidak berada di area terbuka selama kondisi asap masih pekat.
Pihak Bandara Tjilik Riwut akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan kondisi cuaca dan asap karhutla. Hasil pemantauan tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan operasional penerbangan, dengan tetap mengutamakan keselamatan penumpang dan seluruh pengguna jasa bandara.
(TA)












Tinggalkan Balasan